Tampilkan postingan dengan label loewy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label loewy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Chinese Cuisine

Traditional dim sum includes various types of steamed buns such as cha siu baau, dumplings and rice noodle rolls (cheong fun), which contain a range of ingredients, including beef, chicken, pork, prawns and vegetarian options. Many dim sum restaurants also offer plates of steamed green vegetables, roasted meats, congee porridge and other soups. Dessert dim sum is also available and many places offer the customary egg tart. Having a meal in a Chinese teahouse or a dim sum restaurant is known as yum cha (yam cha, 飲茶), literally "drinking tea", as tea is typically served with dim sum.

Dim sum can be cooked by steaming and frying, among other methods. The serving sizes are usually small and normally served as three or four pieces in one dish. It is customary to order family style, sharing dishes among all members of the dining party. Because of the small portions, people can try a wide variety of food.

Dim sum dishes can be ordered from a menu or sometimes the food is wheeled around on a trolley by servers. Traditionally, the cost of the meal is calculated based on the number, size, and sometimes color of the dishes left on the patron's table (more below). Some modern dim sum restaurants record the dishes on a bill at the table. Not only is this tidier, it also prevents patrons from cheating by concealing or stealing the plates. Servers in some restaurants use distinct stamps so that sales statistics for each server can be recorded.

Source: www.wikipedia.com

See also: loewy, table 8

Rabu, 25 Agustus 2010

Dim Sum Fast food

Two women picking microwave-cooked dim sum from the freezer in Circle K, Hong Kong.

Certain kinds of instant dim sum have come onto the market in Hong Kong, Mainland China, Taiwan and Singapore. People can enjoy snacks after a 3-minute defrosting and reheating of the instant dim sum in a microwave oven.

Some stalls serve "street dim sum" which usually consists of dumplings or meatballs steamed in a large container, but served on a bamboo skewer. The customer can dip the whole skewer into a sauce bowl and eat while standing or walking.

Dim sum can be purchased from major grocery stores in most countries with a Chinese population. These dim sum can be easily cooked by steaming or microwaving. Major grocery stores in Hong Kong, Philippines, Singapore, Taiwan, Mainland China, Malaysia, Brunei, Thailand, Australia, United States and Canada have a variety of dim sum stocked at the shelves. These include dumplings, siu maai, bau, cheong fun, lo bak go and steamed spare ribs. In Singapore, as well as other countries, dim sum can also be purchased from convenience stores, coffee shops and other eateries. There is also halal certified dim sum available, with chicken taking the place of pork which in addition to Singapore is very popular in Malaysia, Indonesia and Brunei.


Source: www.wikipedia.com


See also: loewy, table 8

Selasa, 24 Agustus 2010

The Dim Sum Guide

By: Grant Y

If you’ve ever ventured into an authentic Chinese restaurant or have passed by one on the weekend, you’ve probably seen or heard of the phrase “dim sum”. For many people, the strange phrase alone is enough to cause eyebrows to arch, heads to shake and stomachs to become uneasy. While it’s completely natural to err on the side of caution when it comes to new and exotic foods, the good news is that dim sum is probably some of the best-tasting Chinese food that you’ll encounter in your adventures.

So what exactly is dim sum, you ask? It’s been described as the Chinese version of tapas (small plates of Spanish dishes), or small delicacies or snack food. Usually offered during weekend brunch, dim sum is a collection of small Chinese dishes that are usually steamed, baked or fried. Dim sum often features meat dishes, pastries and desserts that you won’t normally see on a restaurant menu otherwise.

Whether you are completely new to dim sum or are an experienced foodie looking to expand your taste buds, our guide will walk you through the perils, pitfalls and joys of finding the best dim sum around. So sit back, relax and let’s begin!

Source: www.chefseattle.com

See also: dim sum, loewy, table 8

Senin, 23 Agustus 2010

Beruang Tak Lewatkan Peluang, Harimau Suka Buruan yang Wow

By: Ratih

Saat ini dongeng sebelum tidur semakin jarang dilakukan karena banyaknya media elektronik yang “menemani” anak sebagai pengantar tidur. Padahal dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara internalisasi nilai atau penanaman norma sejak dini. Bagi kamu yang masih punya adik kecil, keponakan atau bahkan sudah punya anak, anak-anak murid (kalau cucu belum kali ya.. we're not that old...). Salah satu cerita ini merupakan kisah klasik dari Cina yang bagus untuk diceritakan pada mereka. Dongeng ini saya baca dalam salah satu buku Cina.


Seekor beruang berdiam diri di pinggir sungai. Ia makan ikan-ikan kecil yang lewat dalam sungai tersebut. Perlahan tapi pasti dia selalu mendapatkan makanan meski apa yang dia peroleh bukan ikan-ikan besar. Hal ini diketahui oleh seekor harimau yang selalu mendapatkan buruan yang besar. Harimau merasa heran dengan beruang yang mau saja makan ikan-ikan kecil.


“Beruang..apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau dapat tak sebanding dengan pengorbanan kamu berdiri terus di pinggir sungai. Lebih baik kamu berburu denganku. Aku biasanya mendapatkan rusa besar dalam satu kali buruan,” ajak Harimau pada Beruang.


“O ya? Rusa itu kamu peroleh kapan saja?” tanya Beruang mulai tertarik dengan tawaran Harimau.

“Tentu saja tidak, kita harus memiliki strategi yang matang, tim yang solid dan mau menunggu karena rombongan rusa hanya lewat satu kali sebulan.”

“Satu kali sebulan?” Beruang mulai berpikir, pilihan mana yang lebih baik, ikan kecil yang sudah pasti ia peroleh atau rusa besar yang hanya satu kali dalam sebulan? Bagaimana dengan hari-hari selama bulan tanpa korban buruan? Beruang ini bukan jenis beruang yang hibernasi selama 3 bulan setelah memperoleh makanan. Beruang ini hanyalah beruang biasa yang hidup seperti layaknya hewan hutan lainnya, hari-hari dilalui dengan bangun dan tidur. “Seandainya aku beruang yang bisa hibernasi, tentu aku akan ikut harimau. Ah, lihatlah tubuh harimau itu begitu kurus kering, mungkin karena ia hanya mau menikmati buruan besar saja,” pikir beruang.


“Wah..sebulan sekali? Maaf ya harimau aku tidak bisa menjadi harimau yang gesit berlari. Aku juga tidak sepintar kamu dalam berstrategi menangkap rusa, aku juga tidak punya tim yang solid untuk menangkap rusa. Lagipula, aku takkan melepas ikan-ikan kecil ini untuk rusa yang belum tentu ada setiap hari. Tubuhku menjadi sebesar ini karena aku setiap hari memakan ikan kecil yang bisa kuperoleh. Aku tak memimpikan buruan besar yang tak mungkin kuperoleh dengan diriku berkemampuan seperti ini.”


Harimau merasa heran dengan keputusan beruang menolak ajakannya yang menggiurkan. Beruang merasa tak rugi apapun karena menolak ajakan harimau. Nah, dari ilustrasi ini coba tanyakan pada anak-anak kecil yang didongengi, mau menjadi seperti hewan apakah ia? Tentu saja, setiap jawaban tak ada yang benar atau salah. Pilihan untuk menjadi salah satu hewan pastinya beralasan, tergantung dari kemampuan masing-masing. Beruang menolak ajakan harimau karena dia hanya mau menjadi beruang penyuka ikan yang baik, harimau mengajak beruang karena dipikirnya ia memiliki buruan besar yang biasanya diinginkan juga oleh hewan-hewan lain. So, just be yourself. Be your best self.

Lihat juga: seafood, loewy, table 8

Jumat, 20 Agustus 2010

An Easy Way to Buy Sustainable Seafood

After I spoke with Casson Trenor a couple of weeks ago, we both became aware of Martin Reed, who has just started a business called I Love Blue Sea. Mr. Reed is a retailer who’s doing the work for you, buying and selling seafood he has verified as sustainable.

There’s a lot of appeal in this business, which is only a few weeks old, and Web-based (the physical location is in San Francisco). Mr. Reed’s goal, other than to make a living, is “to be a pioneer in selling only sustainable seafood, and in being upfront about where things come from and how they’re caught.”

Sounds good. But I had two questions. One: How do you know what you’re buying? His answer: “We use all third party standards, like those of Greenpeace (nothing from the “red list”) and the Monterey Bay Aquarium (no “avoid” fish) ” If he knows that “pirating” (as illegal fishing is called) is big with a certain species, he won’t sell it at all. (Thus, no yellowfin.) And he is insisting that suppliers sell him only fish that can be traced — individually — through bills of lading and bar codes.

Makes sense to me.

The second question concerns cost. The seafood on Mr. Reed’s site is quite fairly priced when you consider that it’s the kind of seafood we want to be buying. The selection is good, too – not as broad as in many big seafood markets, but then again, you’re not worrying about the source. There is occasionally some farm-raised fish where the wild resource is sustainable, and to me this doesn’t make sense, but remember he’s buying West Coast fish and I’m an East Coast person, so our experiences are different.

But the shipping necessarily includes frozen gel-packs and insulated boxes, which add considerably to weight and volume — thus making overnight Fedex charges high: fifty bucks, in the case of my sample order, which was for fish that cost about the same amount.

This is obviously not Mr. Reed’s fault, but it is his problem. He acknowledges this, but says that “After you get to five or ten pounds of product your order will be less expensive than if you bought a similar product at a supermarket.” I don’t know about that, but what is for sure is that, as he says, “There aren’t similar offerings in most parts of the country.”

Mr. Reed says, “We want to change the way the seafood industry works,” and I believe this is our only hope. If you think about what the word “sustainable” means, and you accept the notion that for the most part, the current state of the seafood industry is anything but, it is accountability on the part of purchasers that can move the industry in the right direction. And by taking on a bigger share of the responsibility, retailers like Mr. Reed make it easier for consumers to do the right thing.

Source: dinersjournal.blogs.nytimes.com


See Also: loewy, table 8


Rabu, 18 Agustus 2010

Review From Member6

Pernah tau Pasir Putih di Kemang, nah kalo lo pada lewat sini udh ga bakal nemu yg namanya Pasir Putih, yg dulu nya pasir doank skrg udh jadi bangunan..tongue

Yak sekarang sudah berubah menjadi resto yg bernama D'Spice, dalemnya ga sebesar Pasir Putih gtu, tp nyaman bgt, tetep ada Pool Side nya, jd klo lo bwa cewe kesini di jamin bayar nya doble tongue

Nah waktu itu gw ber3 kesini n makan di pinggir pool side biar dapet foto2 bagus u/ OpenRicers..Ini dia ne yg gw pesen..Cekidot :

bowlchopstickNasi Timbel (IDR 45.000)
Ini dia ne yg gw makan..Waaa...gw jadi kangen sama Ayam Grill & Empal Grill plus Sambel Ikan Teri nya..Ayam & Empal nya enak bgt..Empuk & bumbu nya meresap sampai ke daging. Trus dimakan dengan nasi timbel di temani dengan sambel ikan teri nya..Beeeuuuhhh mantaf..Must try!!


bowlchopstickEmpal Gentong (IDR 39.000)
Nah ini yg makan temen gw namanya Ari, gw sempet nyobain dikit biar bsa di review di sini. Terus terang gw blm pernah ngerasain empal gentong itu seperti apa. Tapi menurut gw enak, tp kuah nya mirip soto betawi, kentel2..yg peting daging empal nya banyak..mantaf.

bowlchopstickVietnamesse Beef Pho Noodle (IDR 34.500)
Ini makanan temen gw yg satu lagi, dan lagi2 gw cobain..Dasar ga tau malu minta2 molo tongue
Seperti hal nya Pho Noodle yg lain, dengan rasa khas masakan vietnam yg plain alias dengan rasa bumbu yg tidak terlalu menonjol tetapi noodle nya yg khas menjadi cita rasa tersendiri untuk penggemar Pho Noodle. So untuk lo yg penggemar Pho Noodle disini silahkan di coba.

bowlchopstickThai Three in One Salad (IDR 24.000)
Nah ini dia yg disebut iseng2 berhadiah. Nah klo lo pesen ini dgn teman lo ber3. Jgn pilih Papaya salad nya krn ga ada isi daging nya tongue
Kalo yg Mango Slad nya di dalamnya ada udang nya, kalo Thai Salad nya ada beef nya. Mantab dan seger.

bowlchopstickBeverages (IDR 24.500)
Rata2 mocktail disini harga nya 24000..seger dan serasa di pantai.

So..this recommended dining with great Place..great taste..smile


Source: www.id.openrice.com


See also: loewy, table 8

Kamis, 05 Agustus 2010

Chinese Hot Pot

Hot pot (Chinese: 火鍋; pinyin: huǒ guō), less commonly Chinese fondue or steamboat, refers to several East Asian varieties of stew, consisting of a simmering metal pot of stock at the center of the dining table. While the hot pot is kept simmering, ingredients are placed into the pot and are cooked at the table. Typical hot pot dishes include thinly sliced meat, leafy vegetables, mushrooms, wontons, egg dumplings, and seafood. The cooked food is usually eaten with a dipping sauce. In many areas, hot pot meals are often eaten in the winter.


History

The Chinese hot pot boasts a history of more than 1000 years. While often called "Mongolian hot pot”, it is unclear if the dish actually originates in Mongolia. Mongol warriors had been known to cook with their helmets, which they used to boil food, but due to the complexity and specialization of the utensils and the method of eating it, hot pot cooking is much better suited to a sedentary culture. A nomadic household will avoid such highly specialized tools, to save volume and weight during migration. Both the preparation method and the required equipment are unknown in the cuisine of Mongolia of today.

Hot pot cooking seems to have spread to northern China during the Tang Dynasty (A.D. 618-906). In time, regional variations developed with different ingredients such as seafood. By the Qing Dynasty, the hot pot became popular throughout most of China. Today in many modern homes, particularly in the big cities, the traditional coal-heated steamboat or hot pot has been replaced by electric, gas or induction cooker versions.

Because hot pot styles change so much from region to region, many different ingredients are used.

Source: www.wikipedia.com

See also: loewy, table 8, chinese food



Kamis, 29 Juli 2010

Cara Hidup Sehat: Waktu, Komunikasi dan Makanan

Oleh: Ratih

Sadarkah kita akan kesehatan pribadi? Jawabannya bisa beragam disertai dengan tindakan aktif ataupun pasif dari kita dalam menjaga kesehatan. Tak disangka, perhatian orang pada kesehatan pribadi tergantung dari konsep waktu, cara berkomunikasi dan tentu saja makanan yang disantapnya sehari-hari. Tak banyak orang yang menyadari bahwa pandangan hidup soal waktu dan cara berkomunikasi menjadi poin pula dalam pembahasan soal kesehatan tubuh. Orang banyak membicarakan soal makanan semata. Maka, secara singkat tulisan ini membahas mengapa waktu dan komunikasi juga penting.


Budaya menghargai waktu memang berbeda-beda dari tiap masyarakat. Bagi masyarakat Asia, kebanyakan hidup untuk hari ini sehingga mereka lebih suka melakukan banyak hal dalam satu waktu. Sementara budaya Amerika memiliki konsep waktu jauh ke depan. Sehingga mereka fokus melakukan satu hal setiap waktu. Budaya Amerika menekankan pada rutinitas demi kesehatan jangka panjang. Sementara budaya Asia lebih menekankan pada kegiatan variatif serta kenal dengan konsep takdir. Sehingga soal kesehatan bukan semata tanggung jawab pribadi melainkan ada peran Tuhan yang terlibat didalam setiap unsur kehidupan kita. Di dunia barat, penemuan yang lebih mutakhir dalam teknologi kesehatan memungkinkan mereka melakukan medical check up rutin. Sehingga cara mereka menjaga kesehatan lebih ke arah bio medical secara kimiawi teknis.


Cara berkomunikasi yang berbeda juga turut berpengaruh pada cara menjaga kesehatan. Komunikasi terbuka budaya Amerika memungkinkan mereka memiliki hubungan informal yang dekat dalam setiap situasi. Sehingga setiap masalah mudah dicari solusinya, tanpa dipendam dalam hati yang biasanya menjadi penyebab stres yang berpengaruh pada kesehatan tubuh. Sementara pada budaya Asia, lebih formal kecuali hubungan dengan keluarga amat dekat. Tentu saja, hubungan yang dekat dengan anggota keluarga ini melahirkan budaya jaga kesehatan yang berbeda pula. Konsep reinkarnasi yang dikenal pada beberapa masyarakat Asia menyebabkan anggota keluarga kurang perhatian bila anggota keluarganya yang lain menderita sakit.


Terkecuali, uniknya di Indonesia kita mengenal jamu yang dapat dikatakan salah satu cara jaga kesehatan secara rutin demi kebaikan di masa yang akan datang. Hubungan dengan anggota keluarga juga dekat. Bisa dikatakan Indonesia memiliki budaya menjaga kesehatan yang cukup baik bila menilik dari budaya minuman jamu tersebut. Jadi sebenarnya nenek moyang kita cukup kenal dengan konsep waktu orientasi masa depan.


Makanan yang kita konsumsi juga cukup sehat. Misalnya saja, gado-gado yang meruapakan campuran dari telur dan sayuran yang ditaburi sambal kacang yang khas. Gado-gado, makanan favorit khas Indonesia ternyata mampu membawa nama Indonesia dalam kancah internasional. Tak disangka, gado-gado menjadi juara pertama dalam lomba masak internasional (Liotorale Flegreo Nel Mondo) 2010, yang digelar di Napoli, Italia, Rabu (28/7). Paula Astrid Unu sebagai juru masak memenangkan sajiannya dalam kategori tampilan sajian estetika. Tentu saja dengan adanya penghargaan ini, tak usah merasa minder bila menyebut gado-gadi sebagai makanan favorit. Sebab, selain memang termasuk makanan sehat, gado-gado juga berprestasi kaliber internasional.


Jadi, bila anda ingin hidup sehat, perbaikilah konsep waktu, cara berkomunikasi dan makanan anda tentu saja.



See also: Table 8, Loewy



Selasa, 20 Juli 2010

Nori's Production

Production

Production and processing of nori by current methods is a highly advanced form of agriculture. The biology of Porphyra, although complicated, is well understood, and this knowledge is used to control virtually every step of the production process. Farming takes place in the sea where the Porphyra plants grow attached to nets suspended at the sea surface and where the farmers operate from boats. The plants grow rapidly, requiring about 45 days from "seeding" until the first harvest. Multiple harvests can be taken from a single seeding, typically at about ten-day intervals. Harvesting is accomplished using mechanical harvesters of a variety of configurations. Processing of raw product is mostly accomplished by highly automated machines that accurately duplicate traditional manual processing steps, but with much improved efficiency and consistency. The final product is a paper-thin, black, dried sheet of approximately 18×20 cm (7.087×7.874 in) and 3 grams in weight.

There are several grades of nori available in the United States. The most common, and least expensive, grades are imported from China, costing about six cents per sheet. At the high end, ranging up to ninety cents per sheet, are "delicate shin-nori (nori from the first of the year's several harvests) cultivated in Ariake Bay, off the island of Kyushu in Japan."Like a fine wine, nori available only in Japan can cost up to US$50 per sheet.[citation needed]

In Japan, over 600 square kilometres (230 sq. mi.) of Japanese coastal waters are given to producing 350,000 tonnes (344,470 tons), worth over a billion dollars. China produces about a third of this amount.

Use

Nori is commonly used as a wrap for sushi and onigiri. It is also a common garnish or flavoring in noodle preparations and soups. Nori is most typically toasted prior to consumption ("yaki-nori" in Japanese). A very common and popular secondary product is toasted and flavored nori ("ajitsuke-nori" in Japanese), in which a flavoring mixture (variable, but typically soy sauce, spices, and sugar in the Japanese style or sesame oil and salt in the Korean style) is applied in combination with the toasting process. Nori is also eaten by making it into a soy sauce flavored paste noritsukudani (海苔佃煮).

In addition, nori is sometimes used as a form of food decoration.

A related product, prepared from the unrelated green algae Monostroma and Enteromorpha, is called aonori (青海苔 literally blue/green nori) and is used like herbs on everyday meals like okonomiyaki and yakisoba.


Source: www.wikipedia.com


See Also: Loewy. Sushi Tei

Jumat, 16 Juli 2010

Nasi Goreng Indonesia

Alih Bahasa: Ratih

Nasi goreng merupakan makanan khas Indonesia dan Malaysia. Nasi goreng merupakan nasi dengan campuran bumbu, cabai, dan udang. Nasi goreng merupakan makanan nasional Indonesia yang tak mengenal batas sosial ekonomi. Makanan ini bisa ditemukan di warung nasi kecil hingga restoran mewah di hotel-hotel.

Bahan utama nasi goreng ialah nasi, kecap, bawang merah dan bawang putih dilengkapi dengan penyedap rasa. Nasi goreng dapat dinikmati kapan saja, bagi orang Indonesia, Malaysia dan Singapura nasi goreng dimakan sebagai sarapan. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama biasanya adalah nasi yang tidak habis dimakan malam harinya sehingga nasi goreng tidak terlalu lembek.

Di restoran-restoran, nasi goreng disajikan dengan telur, ayam goreng, sate, sayuran dan kerupuk. Sedangkan di warung nasi kecil, nasi goreng istimewa pakai telur.

Source: www.wikipedia.com


Lihat juga: seafood, Table 8, Loewy



Rabu, 14 Juli 2010

Padu Padan Makanan

Alih Bahasa Oleh: Ratih

Pernahkah kamu makan pagi, siang malam dengan menu yang sama? Bisa jadi jawabannya pernah atau tidak pernah. Tanpa kita sadari, kita memilih makanan bukan hanya berdasarkan keinginan tapi juga berdasarkan kategori makanan. Penelitian mengenai makanan dan budaya mengkategorikan makanan menjadi beberapa bagian. Bukan hanya berdasarkan selera pribadi. Berikut kategori makanan menurut hasil penelitian di negara berkembang dan maju:

  1. cultural superfoods: fungsi makanan ini untuk diet;

  2. prestige foods: makanan berprotein tinggi, mahal atau unik;

  3. body image foods: makanan yang dipercaya dapat mempengaruhi kesehatan, kecantikan dan kesejahteraan;

  4. sympathetic magic foods: makanan yang memiliki kesamaan dari segi bentuk dan warna;

  5. physiologic group foods: makanan yang tidak boleh dikonsumsi bagi kelompok tertentu misalnya gender, usia atau kondisi kesehatan.

Kategorisasi ini memudahkan para peneliti mengidentifikasi dan memahami kebiasaan makan dari berbagai kebudayaan, termasuk soal berikut:

  1. frekuensi konsumsi makanan yang digambarkan melalui model makanan utama dan pelengkap;

  2. tradisi budaya dalam mempersiapkan makanan berdasarkan perayaan tertentu;

  3. makanan harian, mingguan, dan tahunan dalam pola makan serta siklus makan;

  4. perubahan dari fungsi-fungsi makanan yang disebabkan oleh perkembangan budaya, diprediksi dari perubahan pandangan tentang budaya makan.

Makanan yang paling sering dikonsumsi diantaranya: nasi, gandum, jagung, dan sayuran. Sedangkan makanan yang luas penyebarannya namun dikonsumsi dengan frekuensi tertentu seminggu sekali ialah: ayam, selada dan apel. Sedangkan makanan yang dikonsumsi sekali-sekali disebut peripheral foods. Sifatnya pilihan pribadi, bukan kebiasaan budaya secara berkelompok. Pada banyak budaya, terutama pada masyarakat agraris, makanan utama disajikan dengan makanan pelengkap untuk menyeimbangkan kadar nutrisi antara makanan utama dan makanan pelengkap. Nasi, roti dan pasta disajikan dengan sayuran atau tomat. Di Cina, nasi dipadukan dengan sayuran, di Itali mie dipadukan dengan saus tomat (spaghetti), di Meksiko tortilla dengan salsa. Padu padan makanan memang bersifat membudaya pada jenis makanan utama dan lauk. Bagaimana denganmu?


Sumber:

Kittler, Pamela Goyan and Kathryn Sucher. 2008. Food and culture. Belmont: Thomson Wadsworth.


Lihat juga: Loewy, Table 8, dim sum


Selasa, 13 Juli 2010

A Chinese buffet restaurant in the United States of America

American Chinese food tends to be cooked very quickly with a great deal of oil and salt[citation needed]. Many dishes are quickly and easily prepared, and require inexpensive ingredients. Stir-frying, pan-frying, and deep-frying tend to be the most common cooking techniques which are all easily done using a wok[citation needed]. The food also has a reputation for high levels of MSG to enhance the flavor. The symptoms of a so-called Chinese restaurant syndrome or "Chinese food syndrome" have been attributed to a glutamate sensitivity, but carefully controlled scientific studies have not demonstrated such negative effects of glutamate[citation needed]. Market forces and customer demand have encouraged many restaurants to offer "MSG Free" or "No MSG" menus.

Most American Chinese establishments cater to non-Chinese customers with menus written in English or containing pictures.[citation needed] If separate Chinese-language menus are available, they typically feature delicacies like liver, chicken feet or other exotic meat dishes that might deter Western customers[citation needed]. In New York's Chinatown, the restaurants were known for having a "phantom" menu with food preferred by Chinese and Chinese Americans, but believed to be disliked by non-Chinese Americans.

American Chinese cuisine often uses ingredients not native and very rarely used in China. One such example is the common use of western broccoli (xi lan, 西蘭) instead of Chinese broccoli (gai lan, 芥蘭) in American Chinese cuisine.[citation needed] Even more divergent are American stir-fry dishes inspired by Chinese food, that may contain brown rice instead of white, with grated cheese; milk products are almost always absent from traditional Chinese food.

Source: www.wikipedia.com

See Also: Loewy, Table 8