Tampilkan postingan dengan label kue tart pengantin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kue tart pengantin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

Tips Menghias Kue Pengantin Tingkat

Tempat makan daerah bintaro - Musim pengantin membuat para tukang kue gembira, karena pesanan pasti mengalir dengan aneka model dan cita rasa beragam yang diminta. Apa saja sich yang harus dilakukan untuk dapat menghias Kue Pengantin yang tampak proposional dan memiliki estetika menarik? Ikuti tips ini:Tips menghias kue pengantin bertumpuk :

# Ukuran cake berikut ini dimulai dibagian paling bawah garis tengah 40cm, tingkat dua 30cm, tingkat tiga 20cm, dan paling atas 15cm.


# Kue pengantin dihias dengan Butter Cream semua dengan detail sebagai berikut:Setiap susun dilakukan teknik Siram Butter Cream, kemudian ditumpuk berurutan.


# Paling bawah, mulai dibuat pola menggunakan lidi terlebih dahulu kemudian isi dengan motif Connely sampai memenuhi semua arsiran pola awal, lalu diberi list pinggiran menggunakan spuit no.4 untuk memperjelas motif pola. Didasar cake, ditutup dengan kerang koma (spuit no. 22), ditimpa koma kecil (spuit no.4), dan ukiran


# koma diatasnya (spuit no.4)# Susun kedua, menggunakan plastik segitiga (piping bag) yang digunting sedikit saja ***jungnya, lalu spuitkan pada cake membentuk motif lingkaran dan ukiran kecil terpisah-pisah.# Susun ketiga, dibuat garis bantu terlebih dahulu, kemudian isi dengan kerang kecil menggunakan spuit no.4 .# Susun paling atas, tetap menggunakan spuit no.4 untuk membuat motif dot, atau titik-titik.# Pada setiap sambungan antara cake paling bawah dengan atasnya, ditutup kerang kecil-kecil menggunakan spuit no.15 .# Alas triplek yang digunakan adalah garis tengah 50cm, menggunakan prinsip perbedaan 10cm dengan.# Setelah semua Kue pengantin dihias rapi, letakkan hiasan bunga-bunga dipuncak kue penganten.# Susun sedemikian rupa sehingga Kue pengantin tampak cantik dan anggun. Sebelum meletakkan bunga-bunga, ada baiknya ditentukan terlebih dahulu bagian tampak depannya.ncc-indonesia.com

Kamis, 29 Oktober 2009

Kue Pengantin Betawi: Pantangan Dilanggar, Kue Gagal



Pelestarian kuliner nusantara memerlukan kepedulian generasi muda. Hal itu disadari oleh pasangan suami-istri Nawiyah (35) dan Ahmad Rido (40). Mereka meneruskan usaha sang ibu (almarhumah) Hj Idop dalam membuat jajanan hantaran Kue Pengantin Betawi, seperti kue geplak, kue wajik, kue lapis pepe, uli, tape ketan, dan dodol betawi.

Beberapa jenis kue memang sering kita lihat di pasar, seperti kue pepe (kue lapis dari tepung sagu), tape, dan ketan uli. Namun untuk geplak dan dodol sudah agak jarang yang membuatnya. Mungkin karena tingkat kesulitannya tinggi dan banyak tata cara dalam membuat panganan tersebut.

Hanya dodol yang paling sering dibuat, meski tidak ada pesanan. Paling tidak dua hari sekali Edo memproduksinya dan dijual per kilogram. Kemasannya sengaja dibuat tidak terlalu besar. Pada bulan Puasa, 15 hari menjelang Lebaran pembuatan dodol mulai meningkat. Adapun pesanan sudah harus dilakukan sebulan sebelumnya.

Usaha pembuatan kue pengantin hantaran khas Betawi ini dirintis Idop pada tahun 1987. Mulanya hanya coba-coba. Saat ada yang mau hajatan lalu minta dibuatkan kue pengantin, Idop menyanggupinya. Lama kelamaan, itu menjadi usaha yang serius.

Dari ketiga anak Idop, hanya Nawiyah yang mengembangkan bakat membuat kue pengantin tersebut. Sebagai penerus, Nawiyah mengembangkan usaha ini dibantu sang suami. "Pesan ibu cuma satu, yaitu harus menjaga kualitas dan memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan. Kami harus selalu ramah juga," ujar ibu empat anak ini.

Pantangan dan tata cara selama pembuatan kue pengantin Betawi juga harus diikuti. Meski agak sulit diterima akal, imbuh Nawiyah, hal itu bisa menggagalkan pembuatan kue pengantin jika dilanggar.

Seperti pada saat membuat dodol, biasanya ada "syaratnya" yakni disiapkan cabai merah dan bawang yang ditusuk dengan lidi, serta uang logam Rp 500 yang direndam di dalam air. Selama bahan dodol masih berbentuk adonan, si pengaduk tidak boleh punya pikiran negatif atau membicarakan yang jelek-jelek, tidak boleh banyak berbicara, tidak boleh kesal. Mendengar berita buruk seperti ada orang yang meninggal juga tidak diperbolehkan. "Makanya saya suka kejam sama anak kecil. Kasarnya mereka enggak boleh dekat-dekat kalau lagi membuat adonan," kata Rido.

Kebanyakan pembuat dodol memang laki-laki. Soalnya, butuh tenaga lumayan besar saat pengadukan. Dodol dimasak dalam kuali besar di atas bara arang. Diaduk dengan kayu yang berbentuk seperti dayung. Kalau hanya setengah kuali bisa dikerjakan dua orang, tetapi kalau penuh, paling tidak harus ada tiga orang yang mengerjakannya.

Rido menuturkan, kue pengantin (dodol) itu disebut juga dengan kue bacot (dalam bahasa Betawi artinya pembicaraan). Jika seorang besan datang dengan dodol yang bagus dan banyak jumlahnya, berarti termasuk orang kaya. Kalau dilihat tampilan dodolnya kurang baik maka akan jadi bahan pembicaraan pula. Ada-ada saja

kompas.com